Search

Minggu, 17 Maret 2013

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)



TINJAUAN PUSTAKA
A.    Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir (3).

B.     Epidemiologi
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram (4). BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan (1,2). Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7% (2,3).

C.    Etiologi
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR (3).
a.       Faktor ibu
a)    Penyakit
Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
b)   Komplikasi pada kehamilan.
Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm.
c)    Usia Ibu dan paritas
Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia <>
d)   Faktor kebiasaan ibu
Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.
b.      Faktor Janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.
c.       Faktor Lingkungan
Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun (4,7).
D.    Komplikasi
Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain (8):
a.    Hipotermia
b.    Hipoglikemia
c.    Gangguan cairan dan elektrolit
d.   Hiperbilirubinemia
e.    Sindroma gawat nafas
f.     Paten duktus arteriosus
g.    Infeksi
h.    Perdarahan intraventrikuler
i.      Apnea of Prematurity
j.      Anemia
Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) antara lain (3,8):
a.    Gangguan perkembangan
b.    Gangguan pertumbuhan
c.    Gangguan penglihatan (Retinopati)
d.   Gangguan pendengaran
e.    Penyakit paru kronis
f.     Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit
g.    Kenaikan frekuensi kelainan bawaan

E.     Diagnosis
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka waktu <> dapat diketahui dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (8).
a.    Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya BBLR (3):
·      Umur ibu
·      Riwayat hari pertama haid terakir
·      Riwayat persalinan sebelumnya
·      Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
·      Kenaikan berat badan selama hamil
·      Aktivitas
·      Penyakit yang diderita selama hamil
·      Obat-obatan yang diminum selama hamil
b.    Pemeriksaan Fisik
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain (3):
·      Berat badan <>
·      Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan)
·      Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa kehamilan).
c.    Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain (3):
·      Pemeriksaan skor ballard
·      Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan
·      Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah.
·      Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas.
·      USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan <>

F.     Penatalaksanaan/ terapi
a.    Medikamentosa
Pemberian vitamin K1 (3):
·        Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau
·        Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu)
b.    Diatetik
Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang menempel pada puting. ASI merupakan pilihan utama (6):
·      Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali.
·      Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan lahir dan keadaan bayi adalah sebagai berikut (3) :
a)         Berat lahir 1750 – 2500 gram
1.      Bayi Sehat
a.       Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu lebih sering (contoh; setiap 2 jam) bila perlu.
b.      Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap, tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
2.      Bayi Sakit
a.       Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV, berikan minum seperti pada bayi sehat.
b.      Apabila bayi memerlukan cairan intravena:
·      Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
·      Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusu.
·      Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh; gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa lambung :
ü Berikan cairan IV dan ASI menurut umur
ü Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali). Apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum. Biarkan bayi menyusu apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan keinginan untuk menyusu dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.

b)        Berat lahir 1500-1749 gram
1.      Bayi Sehat
a.       Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang dibutuhkan tidak dapat diberikan menggunakan cangkir/sendok atau ada resiko terjadi aspirasi ke dalam paru (batuk atau tersedak), berikan minum dengan pipa lambung. Lanjutkan dengan pemberian menggunakan cangkir/ sendok apabila bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak (ini dapat berlangsung setela 1-2 hari namun ada kalanya memakan waktu lebih dari 1 minggu)
b.      Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
c.       Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
2.      Bayi Sakit
a.       Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
b.      Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah cairan IV secara perlahan.
c.       Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
d.      Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok apabila kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak
e.       Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.

c)         Berat lahir 1250-1499 gram
1.      Bayi Sehat
a.       Beri ASI peras melalui pipa lambung
b.      Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
c.       Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
d.      Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
2.      Bayi Sakit
a.       Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama.
b.      Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah cairan intravena secara perlahan.
c.       Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
d.      Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
e.       Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.

d)        Berat lahir <> tidak tergantung kondisi)
1.      Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama
2.      Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan kurangi pemberian cairan intravena secara perlahan.
3.      Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
4.      Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
5.      Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.

c.    Suportif
Hal utama yang perlu dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal (3):
a)         Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk.
b)        Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
c)         Ukur suhu tubuh dengan berkala
d)        Yang juga harus diperhatikan untuk penatalaksanaan suportif ini adalah :
e)         Jaga dan pantau patensi jalan nafas
f)         Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit
g)        Bila terjadi penyulit, harus dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermia, kejang, gangguan nafas, hiperbilirubinemia)
h)        Berikan dukungan emosional pada ibu dan anggota keluarga lainnya
i)          Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak memungkinkan, biarkan ibu berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui.

G.    Pemantauan (Monitoring)
a.    Pemantauan saat dirawat
a)    Terapi
1.      Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
2.      Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu
b)   Tumbuh kembang
1.      Pantau berat badan bayi secara periodic
2.      Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan berat lair ≥1500 gram dan 15% untuk bayi dengan berat lahir <1500>
3.      Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari :
·         Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 ml/kg/hari
·         Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
·         Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI hingga 200 ml/kg/hari
·         Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap minggu.
b.    Pemantauan setelah pulang
Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi dan mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang sebagai berikut (3,4):
a)    Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan.
b)   Hitung umur koreksi
c)    Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
d)   Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST)
e)    Awasi adanya kelainan bawaan

H.    Pencegahan
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan (3):
a.       Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu
b.      Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik
c.       Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20-34 tahun)
d.      Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil


DAFTAR PUSTAKA

United Nations Children’s Fund/World Health Organization. Low Birthweight. UNICEF, New York, 2004. Avaliable from : http://www.childinfo.org/areas/birthweight.htm. Last Update : Nov 2007 [diakses tanggal 2 Desember 2007].

Setyowati T. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah
(Analisa data SDKI 1994). Badan Litbang Kesehatan, 1996. Avaliable from :http://www.digilib.litbang.depkes.go.id. Last Update : 2003 [diakses tanggal 2 Desember 2007].

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Bayi Berat Lahir Rendah. Dalam : Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Jakarta : 2004 ; 307-313.

World Health Organization (WHO). Development of a strategy towards promoting optimal fetal growth. Avaliable from : http://www.who.int/nutrition/topics/feto_maternal/en.html. Last update : January 2007 [diakses pada tanggal 10 Desember 2007].

Mutalazimah. Hunbungan Lingkar Lengan Atas dan Kadar Hb Ibu Hamil dengan Bayi Berat Lahir Rendah di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Dalam : Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. Vol. 6. 2005; 114-126.

Suradi R. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Melihat situasi dan kondisi bayi. Avaliable from :http://www.IDAI.or.id. Last Update : 2006. [diakses pada tanggal 10 Desember 2007].

Sitohang NA. Asuhan keperawatan pada bayi berat lahir rendah. Medan : Universitas Sumatera Utara. 2004.

Subramanian KS. Low Birth Weight Infant. Avaliable from : http://www.eMedicine.com. Last Update : September 25, 2006. [diakses pada tanggal 11 Desember 2007].


Perkembangan Bayi dalam Rahim Menurut Islam



1-Kejadian ‘an-nutfah’ – نُطْفَةً -
Ini adalah fase penyatuan di antara benih lelaki dan benih wanita sehingga terjadinya implantasi (embryo mula melekat ke rahim)sperm 1 300x225 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quransperm and ovum Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
•خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ  وَلَقَدْ
• نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ   ثُمَّ جَعَلْنَاهُ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah. Kemudian Kami jadikannya air mani (yang disimpan – nutfah) dalam tempat yang kukuh (rahim).”  - surah al mukminin ayat 12-13
ovum lg 300x193 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al QuranNutfah , sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw ketika ditanya oleh seorang Yahudi mengenai kejadian manusia  : ” Manusia dicipta daripada kedua-dua, daripada nutfah lelaki dan nutfah seorang wanita ” (Diriwayatkan – Musnad Ahmad, Jilid 1, ms 465) .
Ini adalah proses perpindahan embryo sehingga terjadilah implantasi (janin melekat di rahim)
fertilisation implantation 300x226 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari seorang lelaki dan seorang wanita…” –Surah Al-Hujraat  : Ayat 13
2-Kejadian al’alaqah –  الْعَلَقَةَ  -
Fasa permulaan embrologi -(early embyogenesis) adalah organ janin yang awal mula dibentuk.
Apakah yang dikatakan ‘alaqah ( الْعَلَقَةَ ) ?
Di dalam Bahasa Arab, ‘Alaqah ( الْعَلَقَةَ ) mempunyai 3 arti.
i-Yang tergantung (janin yang bergantung di dalam rahim ibunya)
suspended Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
ii-Lintah atau leech (janin menghisap atau mengambil makanan di dalam rahim ibu)
ch1 1 a img1 300x155 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
iii-gumpalan darah – morfologi ‘alaqah seumpama gumpalan darah sebelum terbentuknya sistem peredaran darah yang sempurna.
bllod circulation Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Kemudian nutfah itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu (‘alaqah) Kami jadikan segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. -Surah al-Mukminun ayat-14

Alaqah 300x234 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
Rasulullah saw pernah bersabda yang bermaksud : “ Pada setiap seorang daripada kamu, semua bahagian (anggota) ciptaan dikumpulkan di dalam rahim ibumu dalam masa 40 hari”. -Hadith shahih riwayat Bukhari & Muslim
3-Kejadian mudghah - الْمُضْغَةَ   -
Mudghah adalah tingkat pembentukan organ yang lebih sempurna setelah fasa ‘alaqah
Mudghah bererti ‘bahan yang dikunyah’. Ini dibuktikan kebenarannya saat dilakukan kajian sains dan mendapati morfologi janin pada saat ini seolah-olah seperti kesan bahan yang dikunyah.mudghah compare 215x300 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quranmudhghah 28 hari Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
Bayi berumur 8 minggu
8 minggu Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
Seluruh organ tubuh utama bayi telah terbentuk meskipun belum berkembang sempurna. Mata dan telinga mulai terbentuk. Jantung berdenyut dengan semakin kuat. Dengan ultrasound (USG) kita dapat melihat jantung janin berdenyut dengan cepat.
scan 8 weeks 300x227 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
Bayi ketika berusia 12 minggu
organogenesis – pembentukan organ-organ bayi pun telah lengkap tetapi belum cukup matang)
12 Week Fetus1 300x221 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quranscan 12 weeks four days 300x200 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
Panjang janin sekarang sekitar 6,5 cm dan beratnya sekitar 20 gram. Kepala bayi menjadi lebih bulat dan wajah telah terbentuk sepenuhnya. Jari-jari tangan dan kaki terbentuk dan kuku mulai tumbuh. Bayi mulai menggerak-gerakkan kaki dan lengannya, tetapi ibu belum dapat merasakan pergerakan ini.
Bayi ketika berusia 17-18 minggu
Setelah lewat 120 hari – (ensoulment – yaitu peniupan ruh pun telah berlalu)
18 WKS 300x300 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran17 weeks 300x225 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al QuranPanjang janin sekarang sekitar 16 cm dan beratnya sekitar 50 gram. Dengan bantuan scan, kita dapat melihat kepala dan tubuh bayi secara lebih terperinci, kita juga dapat melihatnya bergerak-gerak. Ia menggerak-gerakkan seluruh kaki dan lengannya, menendang dan menyepak. Inilah tahap di mana kebanyakan ibu dapat merasakan gerakan bayi buat kali pertamanya.
Ketika berusia 24 minggu
24 weeks Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
Sekarang panjang bayi sekitar 32 cm dan beratnya kira-kira 500 gram. Ibu dapat merasakan bagian-bagian tubuh bayi yang berbeda yang menyentuh dinding perutnya. Otot rahim ibu sekain merenggang dan kadang kala ibu mula merasakan sakit di bagian perutnya.
Ketika bayi berusia 30 minggu
30 week fetus 300x254 Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
Kepala bayi sekarang sudah mulai seimbang dengan tubuhnya. Ibu mungkin mengalami tekanan di bagian pernafasan dan perut. Sekarang berat bayi sekitar 1200-1500 gram dan panjangnya sekitar 40 cm.
Ketika berusia 36 minggu
38weeks Perkembangan Janin & Bukti Kebenaran al Quran
Bayi sudah hampir sepenuhnya matang. Dia mula turun ke rongga tempat ibu melahirkan nya. Kulit bayi sekarang  semakin halus dan tubuhnya montok. Apabilad dia bangun, matanya terbuka dan dia dapat membedakan di antara terang dan gelap. Sekarang panjang bayi sekitar 50 cm dan beratnya berkisar antara 2500 hingga 3000 gram. Ibu harus semakin bersedia untuk menyambut kedatangannya ke alam dunia.

Takipneu Transien (Sindroma Paru-Paru Basah Pada Bayi Baru Lahir)


Defenisi :
Takipneu Transien (Sindroma Paru-Paru Basah Pada Bayi Baru Lahir) adalah suatu gawat pernafasan dan rendahnya kadar oksigen yang bersifat sementara, yang tidak seserius sindroma gawat pernafasan.

Penyebab :
Dalam keadaan normal, setelah lahir, cairan di dalam paru-paru janin segera diabsorbsi. Takipneu transien biasanya terjadi akibat penundaan absorbsi tersebut.
Bayi yang menderita takipneu transien biasanya lahir cukup umur dan seringkali lahir melalui operasi sesar.

Gejala :
Segera setelah lahir, bayi mulai bernafas cepat, ngorok dan ketika menghirup udara otot dinding dadanya tertarik. Kulit bayi tampak kebiruan karena darah kekurangan oksigen.

Diagnosa :
Rontgen dada menunjukkan adanya cairan di dalam paru-paru.

Pengobatan :
Satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah oksigen. Penyembuhan total terjadi dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari setelah cairan di dalam paru-paru diabsorbsi. Sangat jarang terjadi perburukan setelah beberapa hari, bila sampai terjadi maka akan dibutuhkan alat ventilasi pernapasan.
Antibiotik dapat diberikan selama 48 jam kelahiran dimana kemungkinan sepsis telah disingkirkan. Antibiotik dapat diberikan Ampicillin, Gentamicin.

Sindroma Distress Pernafasan (Penyakit Membran Hialin)


Defenisi :
Sindroma Gawat Pernafasan (dulu disebut Penyakit Membran Hialin) adalah suatu keadaan dimana kantung udara (alveoli) pada paru-paru bayi tidak dapat tetap terbuka karena tingginya tegangan permukaan akibat kekurangan surfaktan.

Agar bayi bisa bernafas dengan bebas, setelah lahir, alveoli harus tetap terbuka dan terisi dengan udara. Alveoli bisa terbuka lebar karena adanya suatu bahan yang disebut surfaktan. Surfaktan dihasilkan oleh sel-sel dalam alveoli dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan dihasilkan oleh paru-paru yang matang, yaitu pada kehamilan 34-37 minggu.

Penyebab :
Sindroma gawat pernafasan hampir selalu terjadi pada bayi prematur, semakin prematur, semakin besar kemungkinan terjadinya sindroma ini.
Sindroma gawat pernafasan juga cenderung banyak ditemukan pada bayi yang ibunya menderita diabetes.

Bayi yang sangat prematur mungkin tidak mampu memulai proses pernafasan karena tanpa surfaktan paru-paru menjadi sangat kaku. Bayi yang lebih besar bisa memulai proses pernafasan, tetapi karena paru-paru cenderung mengalami kolaps, maka terjadilah sindroma gawat pernafasan.

Gejala :
Gejala-gejalanya berupa :
  • Takipneu (pernafasan cepat)
  • Gerakan pernafasan yang tidak biasa (retraksi interkostalis, ketika menghirup udara, otot dinding dada tertarik)
  • Nafasnya pendek dan ketika menghembuskan nafas terdengar suara ngorok
  • Cuping hidung mengembang
  • Apneu
  • Sianosis (warna kulit dan selaput lendir membiru)
  • Edema (pembengkakan tungkai atau lengan)


Diagnosa :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
  • Hasil pemeriksaan fisik
  • Hasil analisa gas darah (menunjukkan kadar oksigen yang rendah dan asidosis)
  • Rontgen dada
  • Hasil tes fungsi paru


Komplikasi :
  • Pneumotoraks
    • Paru-paru sangat kaku dan untuk mengembangkannya diperlukan tekanan yang lebih dari bayi maupun ventilator. Akibatnya paru-paru bisa pecah sehingga udara merembes ke dalam rongga dada. Udara ini menyebabkan paru-paru menjadi kolaps dan terjadinya gangguan ventilasi dan sirkulasi.
    • Kolaps paru-paru (pneumotoraks) memerlukan pengobatan segera, yaitu berupa pengeluaran udara dari dada dengan bantuan sebuah jarum.
  • Perdarahan di dalam otak
    • Resiko terjadinya perdarahan akan berkurang jika sebelum persalinan telah diberikan kortikosteroid kepada ibu.
Pengobatan :
Resiko terjadinya sindroma gawat pernafasan bisa dikurangi jika persalinan bisa ditunda sampai paru-paru bayi telah mampu menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang memadai.
Jika kemungkinan akan terjadi persalinan prematur, maka diilakukan amniosintesis untuk mengetahui kadar surfaktan.

Jika diperkirakan bahwa paru-paru bayi belum matang dan persalinan tidak dapat ditunda, maka diberikan kortikosteroid kepada ibu minimal 24 jam sebelum waktu perkiraan persalinan. Kortikosteroid akan melewati plasenta dan merangsang pembentukan surfaktan oleh paru-paru janin.

Setelah persalinan, kepada bayi yang menderita sindroma ringan hanya perlu diberikan oksigen. Pada sindroma yang lebih berat mungkin perlu didukung oleh ventilator dan obat surfaktan.

Obat surfaktan sangat menyerupai surfaktan yang asli dan dapat diteteskan langsung ke dalam trakea bayi melalui suatu selang. Obat ini bisa memperbaiki angka kelangsungan hidup bayi dengan cara mengurangi beratnya sindroma dan resiko terjadinya komplikasi.
Untuk mencegah terjadinya sindroma pada bayi yang sangat prematur, obat surfaktan bisa diberikan segera setelah bayi lahir atau diberikan ketika tanda-tanda terjadinya gejala mulai terlihat. Pengobatan bisa dilanjutkan selama beberapa hari sampai bayi mulai menghasilkan surfaktan sendiri.



Cedera Lahir


Defenisi :
Jalan lahir dibentuk oleh tulang panggul ibu. Dalam keadaan normal, bayi memiliki ruang yang cukup untuk dilaluinya di sepanjang jalan lahir. Tetapi jika jalan lahir sempit atau janinnya besar (seperti pada ibu penderita diabetes), maka bisa terjadi kesulitan dalam melewati jalan lahir atau bisa terjadi cedera.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bayi terlalu besar untuk dapat melewati jalan lahir, maka dilakukan operasi sesar untuk mengurangi kemungkinan terjadinya cedera pada bayi.

Selama proses persalinan berlangsung, hampir setiap bagian dari bayi bisa mengalami cedera. Kebanyakan bersifat ringan dan segera membaik. Yang paling sering terjadi adalah memar. Tulang tengkorak bayi tidak saling berhubungan, sehingga ketika melewati jalan lahir, kepala bayi bisa disesuaikan dengan jalan lahir. Hal ini adalah normal dan dalam beberapa hari, bentuk kepala akan kembali normal.
Cedera kepala yang serius dan cedera  otak yang hebat, saat ini jarang terjadi.

Pada persalinan yang sulit, bisa terjadi peregangan saraf, terutama saraf yang menuju ke lengan, sehingga terjadi kelumpuhan sementara ataupun menetap pada lengan (kelumpuhan Erb). Kadang terjadi patah tulang selangka yang biasanya segera membaik tanpa meninggalkan gejala sisa.

Besar Untuk Masa Kehamilan (BMK, LGA, Large for Gestational Age)


Defenisi :
Seorang bayi baru lahir (apakah prematur, matur atau post-matur) yang lebih besar dibandingkan dengan umur kehamilannya dikatakan Besar Untuk Masa Kehamilan (BMK, LGA, Large for Gestational Age).

Penyebab :
Penyebab utama dari bayi yang sangat besar adala diabetes yang diderita ibunya selama kehamilan.
Gula di dalam darah ibu melalui plasenta, sebagai respon terhadap tingginya kadar gula, maka prankeas janin menghasilkan sejumlah besar insulin. Hal ini menyebabkan janin tumbuh sangat besar. Semakin jelek pengontrolan terhadap diabetes ibu, semakin besar bayi yang dilahirkan nanti.

Gejala :
Ukuran bayi yang sangat besar bisa menyebabkan kesulitan dalam persalinan melalui vagina, sehingga kemungkinan terjadinya cedera semakin besar. Karena itu, bayi BMK biasanya harus dilahirkan melalui operasi sesar.

Pada saat lahir, ketika tali pusar dipotong, gula dari ibu tiba-tiba berhenti mengalir ke janin, tetapi kadar insulin janin tetap tinggi. Kadar gula darah janin akan segera turun sehingga terjadi hipoglikemia dalam waktu 1-2 jam setelah bayi dilahirkan.
Mungkin tidak akan tampak gejala-gejala dari hipoglikemia atau bayi mungkin akan tampak gelisah, kesadarannya menurun atau mengantuk, tidak mau menyusu dan bahkan ada yang sampai kejang.

Bayi yang lahir dari ibu yang menderita diabetes memiliki jumlah sel darah merah yang tinggi. Karena itu mereka cenderung memiliki kadar bilirubin yang tinggi, yang menyebabkan terjadinya jaundice.
Keadaan ini bisa diatasi dengan fototerapi atau kadang dilakukan tranfusi ganti.

Bayi dan ibu yang menderita diabetes cenderung memiliki paru-paru yang belum matang dan menderita sindroma gawat pernafasan, meskipun tidak lahir prematur.

Kecil Untuk Masa Kehamilan (KMK, SGA, Small for Gestational Age)


Defenisi :
Jika seorang bayi baru lahir (apakah prematur, cukup umur ataupun post-matur) lebih kecil dibandingkan umur kehamilannya, maka dikatakan sebagai Kecil Untuk Masa Kehamilan (KMK, SGA, Small for Gestational Age).

Penyebab :
Seorang bayi baru lahir bisa kecil karena faktor keturunan (orang tuanya juga kecil atau penyakit keturunan) atau karena fungsi plasenta telah menurun (sehingga memberikan lebih sedikit oksigen dan zat gizi kepada bayi).
Penurunan fungsi plasenta bisa terjadi jika selama kehamilan, ibu menderita tekanan darah tinggi, penyakit ginjal atau diabetes kronis.

KMK juga cenderung terjadi pada bayi yang lahir dari ibu yang kecanduan narkotik atau kokain serta perokok berat.
Kadang KMK terjadi jika ibu atau janin menderita sitomegalovirus, campak Jerman atau toksoplasmosis.

Gejala :
Berbeda dengan bayi prematur, bayi KMK yang cukup umur memiliki organ dalam yang sempurna. Jika selama di dalam rahim pertumbuhannya menjadi lambat akibat asupan gizi yang kurang, maka segera dilahirkan ketika mulai diberikan zat gizi yang adekuat, pertumbuhannya akan menjadi pesat.

Janin yang tumbuh secara lambat karena fungsi plasenta yang buruk bisa mengalami kekurangan oksigen selama persalinan. Setiap kontraksi, arteri ibu yang menuju ke plasenta pada saat melewati rahim akan mengalami tekanan sehingga aliran darah ke plasenta berkurang.
Jika sebelum persalinan fungsi plasenta berada di garis perbatasan, maka berkurangnya aliran darah selama persalinan bisa membahayakan penghantaran oksigen dan menyebabkan terjadinya cedera pada janin.

Bayi yang selama proses persalinan mengalami kekurangan oksigen akan mengeluarkan tinja pertamanya (mekonium) ke dalam cairan ketuban.
Jika bayi menghirup cairan ketuban yang mengandung mekonium, maka paru-parunya akan terkena. Mekonium bisa menyumbat beberapa bronki sehingga sebagian paru-paru menjadi kolaps.
Mekonium yang terhirup ke dalam paru-paru juga bisa menyebabkan peradangan atau pneumonitis.
Kedua keadaan di atas bisa menyebabkan kelainan fungsi paru-paru.

Komplikasi dari KMK adalah hipoglikemia pada beberapa jam dan beberapa hari setelah dilahirkan, karena cadangan gulanya berkurang.

Postmaturitas (Kelahiran Janin Usia Tua)

Defenisi :
Post-maturitas adalah suatu keadaan dimana bayi lahir setelah usia kehamilan melebihi 42 minggu.

Ketika usia kehamilan memasuki 40 minggu, plasenta mulai mengecil dan fungsinya menurun karena kemampuan plasenta untuk menyediakan makanan semakin berkurang, maka janin menggunakan persediaan lemak dan karbohidratnya sendiri sebagai sumber energi. Akibatnya, laju pertumbuhan janin menjadi lambat.

Jika plasenta tidak dapat menyediakan oksigen yang cukup selama persalinan, bisa terjadi gawat janin, sehingga janin menjadi rentan terhadap cedera otak dan organ lainnya.
Cedera tersebut merupakan resiko terbesar pada seorang bayi post-matur dan untuk mencegah terjadinya hal tersebut, banyak dokter yang melakukan induksi persalinan jika suat kehamilan telah lebih 42 minggu.

Penyebab :
Penyebab terjadinya post-maturitas biasanya tidak diketahui.

Gejala :
Gambaran fisik bayi postmatur :
  • Panjangnya cukup umur, tetapi berat badannya rendah sehingga tampak kurus
  • Matang, berada dalam keadaan siaga
  • Lemak dibawah kulitnya sedikit sehingga kulit pada lengan dan tungkainya tampak menggelambir
  • Kulitnya kering dan mengelupas
  • Kuku jari kaki dan kuku jari tangannya panjang
  • Kuku jari kaki, kuku jari tangan dan pusarnya berwarna kehijauan atau kecoklatan karena mekonium (tinja pertama bayi).



Komplikasi :
  1. Hipoglikemia, karena cadangan energi pada saat dilahirkan sangat rendah dan bahkan akan lebih rendah lagi jika pasokan oksigen selama persalinan juga rendah.
  2. Sindroma aspirasi mekonium.



Prematuritas (Kelahiran Prematur)


Defenisi :
Prematuritas adalah suatu keadaan yang belum matang, yang ditemukan pada bayi yang lahir pada saat usia kehamilan belum mencapai 37 minggu.

Prematuritas (terutama prematuritas yang ekstrim) merupakan penyebab utama dari kelainan dan kematian pada bayi baru lahir. Beberapa organ dalam bayi mungkin belum berkembang sepenuhnya sehingga bayi memiliki resiko tinggi menderita penyakit tertentu.

Penyebab :
Penyebab terjadinya kelahiran prematur biasanya tidak diketahui.
15% dari kelahiran prematur ditemukan pada kehamilan ganda (di dalam rahim terdapat lebih dari 1 janin).

Faktor resiko yang mungkin berperan dalam terjadinya persalinan prematur adalah :
  • Kehamilan usia muda (usia ibu kurang dari 18 tahun).
  • Pemeriksaan kehamilan yang tidak teratur.
  • Golongan sosial-ekonomi rendah.
  • Keadaan gizi yang kurang.
  • Penyalahgunaan obat.


Masalah pada ibu biasanya berupa :
  • Riwayat persalinan prematur pada kehamilan sebelumnya.
  • Kadar alfa-fetoprotein tinggi pada trimester kedua yang penyebabnya tidak diketahui.
  • Penyakit atau infeksi yang tidak diobati (misalnya infeksi saluran kemih atau infeksi selaput ketuban).
  • Kelainan pada rahim atau leher rahim.
  • Ketuban pecah sebelum waktunya.
  • Plasenta Previa.
  • Pre-eklamsi (suatu keadaan yang bisa terjadi pada trimester kedua kehamilan, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein dalam air kemih dan pembengkakakn tungkai).
  • Diabetes Mellitus.
  • Penyakit jantung.


Gejala :
Gambaran fisik bayi prematur :
  • Ukuran kecil
  • Berat badan lahir rendah (kurang dari 2,5 kg)
  • Kulitnya tipis, terang dan berwarna pink (tembus cahaya)
  • Vena dibawah kulit terlihat (kulitnya transparan)
  • Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput
  • Rambut yang jarang
  • Telinga tipis dan lembek
  • Tangisannya lemah
  • Kepala relatif besar
  • Jaringan payudara belum berkembang
  • Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memmiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan)
  • Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk
  • Pernafasan yang tidak teratur
  • Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit (anak laki-laki)
  • Labia mayora belum menutupi Labia minora (pada anak perempuan)


Komplikasi :
  1. Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin)
    • Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar bisa bernafas dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat terisi oleh udara dan tetap terbuka. Alveoli bisa membuka lebar karena adanya bahan yang disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Bayi prematur sering kali tidak menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka. Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadai Sindroma Distress Pernafasan. Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya dan pada beberapa kasus bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan oksigen : jika penyakinya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator dan diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah selang yang dihubungkan dengan trakea bayi).
  2. Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan refleks mengisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak atau serangan apneu. Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi prematur juga memiliki otak yang belum berkembang. Hal ini bisa menyebabkan apneu (henti nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin belum matang. Untuk mengurangi frekuensi serangan apneu bisa digunakan obat-obatan. Jika oksigen maupun aliran darahnya terganggu, otak yang sangat tidak matang sangat rentan terhadap perdarahan (perdarahan intraventrikuler) atau cedera.
  3. Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian makanan. Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah.
  4. Retinopati gangguan penglihatan atau kebutaan (Fibroplasia retrolentar)
  5. Displasia bronkopulmoner
  6. Penyakit jantung
  7. Jaundice
    • Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk membuang billirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah) dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur memiliki kadar billirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara) yang dapat menyebabkan sakit kuning (jaudice). Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena kemampuan mencernanya masih belum sempurna. Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan perbaikan fungsi pencernaan bayi.
  8. Infeksi atau Septikemia
    • Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna. Mereka belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melalui plasenta (ari-ari). Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur lebih tinggi. Bayi prematur juga lebih rentan terhadap eneterokolistis nekrotisasi (peradangan pada usus).
  9. Anemia
  10. Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah, bisa tinggi (hiperglikemia) maupun rendah (hipoglikemia).
  11. Perkembangan dan pertumbuhan lambat.
  12. Keterbelakangan mental dan mototrik.
Diagnosa :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran fisik dan usia kehamilan.
Pemeriksaan yang dilakukan pada bayi prematur :
  • Rontgen dada untuk melihat kematangan paru-paru
  • Analisa gas darah
  • Kadar gula darah
  • Kadar kalsium darah
  • Kadar bilirubin

Pengobatan :
Jika kemungkinan akan terjadi kelahiran prematur, biasanya diberikan obat tokolitik untuk menghentikan kontraksi dan kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru-paru bayi.

Makanan diberikan melalui sebuah selang yang dimasukkan ke dalam lambung bayi karena fungsi menghisap dan menelan pada bayi prematur masih belum matang. Pada prematur yang ekstrim, makanan diberikan melaui infuus.
Pada usia sekitar 34 minggu, bayi mulai disusui ASI atau susu botol.

Bayi prematur sangat cepat kehilangan panas dan mengalami kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh, sehingga mereka biasanya ditempatkan di dalam suatu inkubator.

Mungkin bayi memerlukan bantuan respirator dan tambahan oksigen.

Pencegahan :
Salah satu langkah terpenting dalam mencegah prematuritas adalah mulai melakukan pemeriksaan kehamilan sedini mungkin dan terus melakukan pemeriksaan selama kehamilan.
Statistik menunjukkan bahwa perawatan kehamilan yang dini dan baik bisa mengurangi angka kejadian prematuritas, kecil untuk kehamilan dan angka kesakitan akibat persalinan dan pada masa baru lahir.