Search
Minggu, 17 Maret 2013
Perkembangan Bayi dalam Rahim Menurut Islam
1-Kejadian ‘an-nutfah’ – نُطْفَةً -
Ini adalah fase penyatuan di antara benih lelaki dan benih wanita sehingga terjadinya implantasi (embryo mula melekat ke rahim)

•خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ وَلَقَدْ
• نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah. Kemudian Kami jadikannya air mani (yang disimpan – nutfah) dalam tempat yang kukuh (rahim).” - surah al mukminin ayat 12-13
Ini adalah proses perpindahan embryo sehingga terjadilah implantasi (janin melekat di rahim)
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari seorang lelaki dan seorang wanita…” –Surah Al-Hujraat : Ayat 13
2-Kejadian al’alaqah – الْعَلَقَةَ -
Fasa permulaan embrologi -(early embyogenesis) adalah organ janin yang awal mula dibentuk.
Apakah yang dikatakan ‘alaqah ( الْعَلَقَةَ ) ?
Di dalam Bahasa Arab, ‘Alaqah ( الْعَلَقَةَ ) mempunyai 3 arti.
i-Yang tergantung (janin yang bergantung di dalam rahim ibunya)
ii-Lintah atau leech (janin menghisap atau mengambil makanan di dalam rahim ibu)
iii-gumpalan darah – morfologi ‘alaqah seumpama gumpalan darah sebelum terbentuknya sistem peredaran darah yang sempurna.
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Kemudian nutfah itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu (‘alaqah) Kami jadikan segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. -Surah al-Mukminun ayat-14
Rasulullah saw pernah bersabda yang bermaksud : “ Pada setiap seorang daripada kamu, semua bahagian (anggota) ciptaan dikumpulkan di dalam rahim ibumu dalam masa 40 hari”. -Hadith shahih riwayat Bukhari & Muslim
3-Kejadian mudghah - الْمُضْغَةَ -
Mudghah adalah tingkat pembentukan organ yang lebih sempurna setelah fasa ‘alaqah
Mudghah bererti ‘bahan yang dikunyah’. Ini dibuktikan kebenarannya saat dilakukan kajian sains dan mendapati morfologi janin pada saat ini seolah-olah seperti kesan bahan yang dikunyah.

Bayi berumur 8 minggu
Seluruh organ tubuh utama bayi telah terbentuk meskipun belum berkembang sempurna. Mata dan telinga mulai terbentuk. Jantung berdenyut dengan semakin kuat. Dengan ultrasound (USG) kita dapat melihat jantung janin berdenyut dengan cepat.
Bayi ketika berusia 12 minggu
organogenesis – pembentukan organ-organ bayi pun telah lengkap tetapi belum cukup matang)
Panjang janin sekarang sekitar 6,5 cm dan beratnya sekitar 20 gram. Kepala bayi menjadi lebih bulat dan wajah telah terbentuk sepenuhnya. Jari-jari tangan dan kaki terbentuk dan kuku mulai tumbuh. Bayi mulai menggerak-gerakkan kaki dan lengannya, tetapi ibu belum dapat merasakan pergerakan ini.
Bayi ketika berusia 17-18 minggu
Setelah lewat 120 hari – (ensoulment – yaitu peniupan ruh pun telah berlalu)
Ketika berusia 24 minggu
Sekarang panjang bayi sekitar 32 cm dan beratnya kira-kira 500 gram. Ibu dapat merasakan bagian-bagian tubuh bayi yang berbeda yang menyentuh dinding perutnya. Otot rahim ibu sekain merenggang dan kadang kala ibu mula merasakan sakit di bagian perutnya.
Ketika bayi berusia 30 minggu
Kepala bayi sekarang sudah mulai seimbang dengan tubuhnya. Ibu mungkin mengalami tekanan di bagian pernafasan dan perut. Sekarang berat bayi sekitar 1200-1500 gram dan panjangnya sekitar 40 cm.
Ketika berusia 36 minggu
Bayi sudah hampir sepenuhnya matang. Dia mula turun ke rongga tempat ibu melahirkan nya. Kulit bayi sekarang semakin halus dan tubuhnya montok. Apabilad dia bangun, matanya terbuka dan dia dapat membedakan di antara terang dan gelap. Sekarang panjang bayi sekitar 50 cm dan beratnya berkisar antara 2500 hingga 3000 gram. Ibu harus semakin bersedia untuk menyambut kedatangannya ke alam dunia.
Takipneu Transien (Sindroma Paru-Paru Basah Pada Bayi Baru Lahir)
Defenisi :
Takipneu Transien (Sindroma
Paru-Paru Basah Pada Bayi Baru Lahir) adalah suatu gawat pernafasan dan
rendahnya kadar oksigen yang bersifat sementara, yang tidak seserius sindroma gawat
pernafasan.
Penyebab :
Dalam keadaan normal,
setelah lahir, cairan di dalam paru-paru janin segera diabsorbsi. Takipneu transien
biasanya terjadi akibat penundaan absorbsi tersebut.
Bayi yang menderita takipneu
transien biasanya lahir cukup umur dan seringkali lahir melalui operasi sesar.
Gejala :
Segera setelah lahir, bayi
mulai bernafas cepat, ngorok dan ketika menghirup udara otot dinding dadanya
tertarik. Kulit bayi tampak kebiruan karena darah kekurangan oksigen.
Diagnosa :
Rontgen dada menunjukkan
adanya cairan di dalam paru-paru.
Pengobatan :
Satu-satunya pengobatan yang
dibutuhkan adalah oksigen. Penyembuhan total terjadi dalam waktu beberapa jam
sampai beberapa hari setelah cairan di dalam paru-paru diabsorbsi. Sangat jarang
terjadi perburukan setelah beberapa hari, bila sampai terjadi maka akan
dibutuhkan alat ventilasi pernapasan.
Antibiotik dapat diberikan
selama 48 jam kelahiran dimana kemungkinan sepsis telah disingkirkan. Antibiotik
dapat diberikan Ampicillin, Gentamicin.
Sindroma Distress Pernafasan (Penyakit Membran Hialin)
Defenisi :
Sindroma Gawat Pernafasan (dulu disebut Penyakit
Membran Hialin) adalah suatu keadaan dimana kantung udara (alveoli) pada
paru-paru bayi tidak dapat tetap terbuka karena tingginya tegangan permukaan
akibat kekurangan surfaktan.
Agar bayi bisa bernafas dengan bebas, setelah
lahir, alveoli harus tetap terbuka dan terisi dengan udara. Alveoli bisa
terbuka lebar karena adanya suatu bahan yang disebut surfaktan. Surfaktan dihasilkan
oleh sel-sel dalam alveoli dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan
dihasilkan oleh paru-paru yang matang, yaitu pada kehamilan 34-37 minggu.
Penyebab :
Sindroma gawat pernafasan hampir selalu terjadi
pada bayi prematur, semakin prematur, semakin besar kemungkinan terjadinya
sindroma ini.
Sindroma gawat pernafasan juga cenderung banyak
ditemukan pada bayi yang ibunya menderita diabetes.
Bayi yang sangat prematur mungkin tidak mampu
memulai proses pernafasan karena tanpa surfaktan paru-paru menjadi sangat kaku.
Bayi yang lebih besar bisa memulai proses pernafasan, tetapi karena paru-paru
cenderung mengalami kolaps, maka terjadilah sindroma gawat pernafasan.
Gejala :
Gejala-gejalanya berupa :
- Takipneu (pernafasan cepat)
- Gerakan pernafasan yang tidak biasa (retraksi interkostalis, ketika menghirup udara, otot dinding dada tertarik)
- Nafasnya pendek dan ketika menghembuskan nafas terdengar suara ngorok
- Cuping hidung mengembang
- Apneu
- Sianosis (warna kulit dan selaput lendir membiru)
- Edema (pembengkakan tungkai atau lengan)
Diagnosa :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
- Hasil pemeriksaan fisik
- Hasil analisa gas darah (menunjukkan kadar oksigen yang rendah dan asidosis)
- Rontgen dada
- Hasil tes fungsi paru
Komplikasi :
- Pneumotoraks
- Paru-paru sangat kaku dan untuk mengembangkannya diperlukan tekanan yang lebih dari bayi maupun ventilator. Akibatnya paru-paru bisa pecah sehingga udara merembes ke dalam rongga dada. Udara ini menyebabkan paru-paru menjadi kolaps dan terjadinya gangguan ventilasi dan sirkulasi.
- Kolaps paru-paru (pneumotoraks) memerlukan pengobatan segera, yaitu berupa pengeluaran udara dari dada dengan bantuan sebuah jarum.
- Perdarahan di dalam otak
- Resiko terjadinya perdarahan akan berkurang jika sebelum persalinan telah diberikan kortikosteroid kepada ibu.
Pengobatan :
Resiko terjadinya sindroma
gawat pernafasan bisa dikurangi jika persalinan bisa ditunda sampai paru-paru
bayi telah mampu menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang memadai.
Jika kemungkinan akan
terjadi persalinan prematur, maka diilakukan amniosintesis untuk mengetahui
kadar surfaktan.
Jika diperkirakan bahwa
paru-paru bayi belum matang dan persalinan tidak dapat ditunda, maka diberikan
kortikosteroid kepada ibu minimal 24 jam sebelum waktu perkiraan persalinan. Kortikosteroid
akan melewati plasenta dan merangsang pembentukan surfaktan oleh paru-paru
janin.
Setelah persalinan, kepada
bayi yang menderita sindroma ringan hanya perlu diberikan oksigen. Pada sindroma
yang lebih berat mungkin perlu didukung oleh ventilator dan obat surfaktan.
Obat surfaktan sangat
menyerupai surfaktan yang asli dan dapat diteteskan langsung ke dalam trakea bayi
melalui suatu selang. Obat ini bisa memperbaiki angka kelangsungan hidup bayi
dengan cara mengurangi beratnya sindroma dan resiko terjadinya komplikasi.
Untuk mencegah terjadinya
sindroma pada bayi yang sangat prematur, obat surfaktan bisa diberikan segera
setelah bayi lahir atau diberikan ketika tanda-tanda terjadinya gejala mulai
terlihat. Pengobatan bisa dilanjutkan selama beberapa hari sampai bayi mulai
menghasilkan surfaktan sendiri.
Cedera Lahir
Defenisi :
Jalan lahir dibentuk oleh tulang panggul ibu. Dalam
keadaan normal, bayi memiliki ruang yang cukup untuk dilaluinya di sepanjang
jalan lahir. Tetapi jika jalan lahir sempit atau janinnya besar (seperti pada
ibu penderita diabetes), maka bisa terjadi kesulitan dalam melewati jalan lahir
atau bisa terjadi cedera.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bayi
terlalu besar untuk dapat melewati jalan lahir, maka dilakukan operasi sesar
untuk mengurangi kemungkinan terjadinya cedera pada bayi.
Selama proses persalinan berlangsung, hampir
setiap bagian dari bayi bisa mengalami cedera. Kebanyakan bersifat ringan dan
segera membaik. Yang paling sering terjadi adalah memar. Tulang tengkorak bayi
tidak saling berhubungan, sehingga ketika melewati jalan lahir, kepala bayi
bisa disesuaikan dengan jalan lahir. Hal ini adalah normal dan dalam beberapa
hari, bentuk kepala akan kembali normal.
Cedera kepala yang serius dan cedera otak yang hebat, saat ini jarang terjadi.
Pada persalinan yang sulit, bisa terjadi
peregangan saraf, terutama saraf yang menuju ke lengan, sehingga terjadi
kelumpuhan sementara ataupun menetap pada lengan (kelumpuhan Erb). Kadang terjadi
patah tulang selangka yang biasanya segera membaik tanpa meninggalkan gejala
sisa.
Besar Untuk Masa Kehamilan (BMK, LGA, Large for Gestational Age)
Defenisi :
Seorang bayi baru lahir (apakah prematur, matur
atau post-matur) yang lebih besar dibandingkan dengan umur kehamilannya
dikatakan Besar Untuk Masa Kehamilan (BMK, LGA, Large for Gestational Age).
Penyebab :
Penyebab utama dari bayi yang sangat besar adala
diabetes yang diderita ibunya selama kehamilan.
Gula di dalam darah ibu melalui plasenta, sebagai
respon terhadap tingginya kadar gula, maka prankeas janin menghasilkan
sejumlah besar insulin. Hal ini menyebabkan janin tumbuh sangat besar. Semakin
jelek pengontrolan terhadap diabetes ibu, semakin besar bayi yang dilahirkan
nanti.
Gejala :
Ukuran bayi yang sangat besar bisa menyebabkan
kesulitan dalam persalinan melalui vagina, sehingga kemungkinan terjadinya
cedera semakin besar. Karena itu, bayi BMK biasanya harus dilahirkan melalui
operasi sesar.
Pada saat lahir, ketika tali pusar dipotong, gula
dari ibu tiba-tiba berhenti mengalir ke janin, tetapi kadar insulin janin tetap
tinggi. Kadar gula darah janin akan segera turun sehingga terjadi hipoglikemia
dalam waktu 1-2 jam setelah bayi dilahirkan.
Mungkin tidak akan tampak gejala-gejala dari
hipoglikemia atau bayi mungkin akan tampak gelisah, kesadarannya menurun atau
mengantuk, tidak mau menyusu dan bahkan ada yang sampai kejang.
Bayi yang lahir dari ibu yang menderita diabetes
memiliki jumlah sel darah merah yang tinggi. Karena itu mereka cenderung
memiliki kadar bilirubin yang tinggi, yang menyebabkan terjadinya jaundice.
Keadaan ini bisa diatasi dengan fototerapi
atau kadang dilakukan tranfusi ganti.
Bayi dan ibu yang menderita diabetes cenderung
memiliki paru-paru yang belum matang dan menderita sindroma gawat pernafasan,
meskipun tidak lahir prematur.
Kecil Untuk Masa Kehamilan (KMK, SGA, Small for Gestational Age)
Defenisi :
Jika seorang bayi baru lahir (apakah prematur,
cukup umur ataupun post-matur) lebih kecil dibandingkan umur kehamilannya, maka
dikatakan sebagai Kecil Untuk Masa Kehamilan (KMK, SGA, Small for
Gestational Age).
Penyebab :
Seorang bayi baru lahir bisa kecil karena faktor
keturunan (orang tuanya juga kecil atau penyakit keturunan) atau karena fungsi
plasenta telah menurun (sehingga memberikan lebih sedikit oksigen dan zat gizi
kepada bayi).
Penurunan fungsi plasenta bisa terjadi jika selama
kehamilan, ibu menderita tekanan darah tinggi, penyakit ginjal atau diabetes
kronis.
KMK juga cenderung terjadi pada bayi yang lahir
dari ibu yang kecanduan narkotik atau kokain serta perokok berat.
Kadang KMK terjadi jika ibu atau janin menderita
sitomegalovirus, campak Jerman atau toksoplasmosis.
Gejala :
Berbeda dengan bayi prematur, bayi KMK yang cukup
umur memiliki organ dalam yang sempurna. Jika selama di dalam rahim
pertumbuhannya menjadi lambat akibat asupan gizi yang kurang, maka segera
dilahirkan ketika mulai diberikan zat gizi yang adekuat, pertumbuhannya akan
menjadi pesat.
Janin yang tumbuh secara lambat karena fungsi
plasenta yang buruk bisa mengalami kekurangan oksigen selama persalinan. Setiap
kontraksi, arteri ibu yang menuju ke plasenta pada saat melewati rahim akan
mengalami tekanan sehingga aliran darah ke plasenta berkurang.
Jika sebelum persalinan fungsi plasenta berada di
garis perbatasan, maka berkurangnya aliran darah selama persalinan bisa
membahayakan penghantaran oksigen dan menyebabkan terjadinya cedera pada janin.
Bayi yang selama proses persalinan mengalami
kekurangan oksigen akan mengeluarkan tinja pertamanya (mekonium) ke dalam cairan
ketuban.
Jika bayi menghirup cairan ketuban yang mengandung
mekonium, maka paru-parunya akan terkena. Mekonium bisa menyumbat beberapa bronki
sehingga sebagian paru-paru menjadi kolaps.
Mekonium yang terhirup ke dalam paru-paru juga
bisa menyebabkan peradangan atau pneumonitis.
Kedua keadaan di atas bisa menyebabkan kelainan
fungsi paru-paru.
Komplikasi dari KMK adalah hipoglikemia pada
beberapa jam dan beberapa hari setelah dilahirkan, karena cadangan gulanya
berkurang.
Postmaturitas (Kelahiran Janin Usia Tua)
Defenisi :
Post-maturitas adalah
suatu keadaan dimana bayi lahir
setelah usia kehamilan melebihi 42 minggu.
Ketika usia kehamilan memasuki 40 minggu, plasenta
mulai mengecil dan fungsinya menurun karena kemampuan plasenta untuk menyediakan
makanan semakin berkurang, maka janin menggunakan persediaan lemak dan
karbohidratnya sendiri sebagai sumber energi. Akibatnya, laju pertumbuhan janin
menjadi lambat.
Jika plasenta tidak dapat menyediakan oksigen yang
cukup selama persalinan, bisa terjadi gawat janin, sehingga janin
menjadi rentan terhadap cedera otak dan organ lainnya.
Cedera tersebut merupakan resiko terbesar pada
seorang bayi post-matur dan untuk mencegah terjadinya hal tersebut, banyak
dokter yang melakukan induksi persalinan jika suat kehamilan telah lebih
42 minggu.
Penyebab :
Penyebab terjadinya post-maturitas biasanya tidak
diketahui.
Gejala :
Gambaran fisik bayi postmatur :
- Panjangnya cukup umur, tetapi berat badannya rendah sehingga tampak kurus
- Matang, berada dalam keadaan siaga
- Lemak dibawah kulitnya sedikit sehingga kulit pada lengan dan tungkainya tampak menggelambir
- Kulitnya kering dan mengelupas
- Kuku jari kaki dan kuku jari tangannya panjang
- Kuku jari kaki, kuku jari tangan dan pusarnya berwarna kehijauan atau kecoklatan karena mekonium (tinja pertama bayi).
Komplikasi :
- Hipoglikemia, karena cadangan energi pada saat dilahirkan sangat rendah dan bahkan akan lebih rendah lagi jika pasokan oksigen selama persalinan juga rendah.
- Sindroma aspirasi mekonium.
Prematuritas (Kelahiran Prematur)
Defenisi :
Prematuritas adalah suatu keadaan yang belum matang, yang ditemukan pada bayi yang lahir pada saat usia kehamilan belum mencapai 37 minggu.
Prematuritas (terutama prematuritas yang ekstrim) merupakan penyebab utama dari kelainan dan kematian pada bayi baru lahir. Beberapa organ dalam bayi mungkin belum berkembang sepenuhnya sehingga bayi memiliki resiko tinggi menderita penyakit tertentu.
Penyebab :
Penyebab terjadinya kelahiran prematur biasanya tidak diketahui.
15% dari kelahiran prematur ditemukan pada kehamilan ganda (di dalam rahim terdapat lebih dari 1 janin).
Faktor resiko yang mungkin berperan dalam terjadinya persalinan prematur adalah :
- Kehamilan usia muda (usia ibu kurang dari 18 tahun).
- Pemeriksaan kehamilan yang tidak teratur.
- Golongan sosial-ekonomi rendah.
- Keadaan gizi yang kurang.
- Penyalahgunaan obat.
Masalah pada ibu biasanya berupa :
- Riwayat persalinan prematur pada kehamilan sebelumnya.
- Kadar alfa-fetoprotein tinggi pada trimester kedua yang penyebabnya tidak diketahui.
- Penyakit atau infeksi yang tidak diobati (misalnya infeksi saluran kemih atau infeksi selaput ketuban).
- Kelainan pada rahim atau leher rahim.
- Ketuban pecah sebelum waktunya.
- Plasenta Previa.
- Pre-eklamsi (suatu keadaan yang bisa terjadi pada trimester kedua kehamilan, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein dalam air kemih dan pembengkakakn tungkai).
- Diabetes Mellitus.
- Penyakit jantung.
Gejala :
Gambaran fisik bayi prematur :
- Ukuran kecil
- Berat badan lahir rendah (kurang dari 2,5 kg)
- Kulitnya tipis, terang dan berwarna pink (tembus cahaya)
- Vena dibawah kulit terlihat (kulitnya transparan)
- Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput
- Rambut yang jarang
- Telinga tipis dan lembek
- Tangisannya lemah
- Kepala relatif besar
- Jaringan payudara belum berkembang
- Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memmiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan)
- Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk
- Pernafasan yang tidak teratur
- Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit (anak laki-laki)
- Labia mayora belum menutupi Labia minora (pada anak perempuan)
Komplikasi :
- Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin)
- Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar bisa bernafas dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat terisi oleh udara dan tetap terbuka. Alveoli bisa membuka lebar karena adanya bahan yang disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Bayi prematur sering kali tidak menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka. Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadai Sindroma Distress Pernafasan. Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya dan pada beberapa kasus bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan oksigen : jika penyakinya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator dan diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah selang yang dihubungkan dengan trakea bayi).
- Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan refleks mengisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak atau serangan apneu. Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi prematur juga memiliki otak yang belum berkembang. Hal ini bisa menyebabkan apneu (henti nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin belum matang. Untuk mengurangi frekuensi serangan apneu bisa digunakan obat-obatan. Jika oksigen maupun aliran darahnya terganggu, otak yang sangat tidak matang sangat rentan terhadap perdarahan (perdarahan intraventrikuler) atau cedera.
- Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian makanan. Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah.
- Retinopati gangguan penglihatan atau kebutaan (Fibroplasia retrolentar)
- Displasia bronkopulmoner
- Penyakit jantung
- Jaundice
- Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk membuang billirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah) dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur memiliki kadar billirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara) yang dapat menyebabkan sakit kuning (jaudice). Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena kemampuan mencernanya masih belum sempurna. Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan perbaikan fungsi pencernaan bayi.
- Infeksi atau Septikemia
- Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna. Mereka belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melalui plasenta (ari-ari). Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur lebih tinggi. Bayi prematur juga lebih rentan terhadap eneterokolistis nekrotisasi (peradangan pada usus).
- Anemia
- Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah, bisa tinggi (hiperglikemia) maupun rendah (hipoglikemia).
- Perkembangan dan pertumbuhan lambat.
- Keterbelakangan mental dan mototrik.
Diagnosa :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran fisik dan usia kehamilan.
Pemeriksaan yang dilakukan pada bayi prematur :
- Rontgen dada untuk melihat kematangan paru-paru
- Analisa gas darah
- Kadar gula darah
- Kadar kalsium darah
- Kadar bilirubin
Pengobatan :
Jika kemungkinan akan terjadi kelahiran prematur, biasanya diberikan obat tokolitik untuk menghentikan kontraksi dan kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru-paru bayi.
Makanan diberikan melalui sebuah selang yang dimasukkan ke dalam lambung bayi karena fungsi menghisap dan menelan pada bayi prematur masih belum matang. Pada prematur yang ekstrim, makanan diberikan melaui infuus.
Pada usia sekitar 34 minggu, bayi mulai disusui ASI atau susu botol.
Bayi prematur sangat cepat kehilangan panas dan mengalami kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh, sehingga mereka biasanya ditempatkan di dalam suatu inkubator.
Mungkin bayi memerlukan bantuan respirator dan tambahan oksigen.
Pencegahan :
Salah satu langkah terpenting dalam mencegah prematuritas adalah mulai melakukan pemeriksaan kehamilan sedini mungkin dan terus melakukan pemeriksaan selama kehamilan.
Statistik menunjukkan bahwa perawatan kehamilan yang dini dan baik bisa mengurangi angka kejadian prematuritas, kecil untuk kehamilan dan angka kesakitan akibat persalinan dan pada masa baru lahir.
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)

.jpg)


.jpg)

